Sejarah Kopi Nusantara

 

Kopi bukan tanaman asli nusantara. Pada abad ke-17, ketika Indonesia masih di bawah pendudukan Belanda, VOC membawa tanaman kopi Arabika ke Indonesia. Mereka tertarik untuk menanam tanaman dan berusaha mengalahkan monopoli Arab di seluruh dunia pada perdagangan kopi.

Pemerintah Kolonial Belanda pada awalnya menanam kopi di sekitar Batavia (Jakarta), dan wilayah selatan seperti Sukabumi dan Bogor. Perkebunan kopi kemudian didirikan di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan di sebagian Sumatera dan Sulawesi. Sebagian besar lahan berhutan dibuka dan ditanami secara khusus untuk pengembangan perkebunan ini. Pertumbuhan perkebunan kopi memiliki peran atas pengembangan infrastruktur di Jawa Tengah selama pergantian abad ke-19. Jalan dan kereta api dibutuhkan untuk mengangkut biji kopi dari pedalaman pulau ke pelabuhan tempat kopi dimuat di kapal dan diekspor.

Sebelum Perang Dunia II, Jawa Tengah, khususnya, memiliki sistem transportasi kereta api yang sangat kuat yang mengangkut kopi, gula, lada, teh, dan tembakau keluar dari provinsi ke kota pelabuhan Semarang. Indonesia Timur, Timor Timur, dan Flores juga memproduksi kopi selama periode ini. Pulau-pulau ini, bagaimanapun, masih di bawah kekuasaan Portugis. Portugis juga mengimpor tanaman kopi Arabika, tetapi berasal dari stok akar yang berbeda dengan yang diimpor Belanda.

Menjelang pergantian abad ke-19, sebagian besar tanaman kopi di Indonesia, serta Sri Lanka dan Malaysia, terkena hama kopi. Hama kopi adalah jamur yang menciptakan pertumbuhan bubuk kuning-oranye halus seperti zat yang dimulai dari bagian bawah daun tanaman. Jamur ini menyebar sangat cepat dan memusnahkan seluruh perkebunan, menghancurkan industri kopi kolonial Indonesia. Sisi timur pulau-pulau itu juga terkena dampaknya, tetapi tidak sampai separah Jawa  karena stok akar yang berbeda yang mereka tanam. Beberapa pemilik perkebunan tidak menanam kembali tanaman kopi tetapi memilih teh atau pohon karet sebagai gantinya yang mereka rasa kurang rentan terhadap penyakit. Banyak dari perkebunan ini yang masih beroperasi sampai sekarang.

Belanda menanggapi hama kopi dengan mengimpor dan menanam kopi Liberica. Varietas ini memiliki popularitas yang berumur pendek dan juga terkena penyakit. Cherry Liberica masih dapat ditemukan di seluruh Jawa, tetapi jarang digunakan sebagai tanaman komersial di Indonesia. Pemerintah kolonial Belanda kemudian memilih varietas Robusta yang lebih tahan untuk menanam kembali perkebunan yang terkena dampak. Robusta masih menghasilkan sekitar 90% dari tanaman kopi di Indonesia saat ini.

Perang Dunia II dan perjuangan untuk kemerdekaan memainkan peran besar dalam perubahan selanjutnya di pasar kopi Indonesia. Perkebunan diambil alih secara singkat oleh pendudukan Jepang. Setelah kemerdekaan, perkebunan di seluruh Indonesia berada di bawah kendali pemerintah baru. Banyak pemilik perkebunan kolonial meninggalkan negara itu untuk menghindari penangkapan. Saat ini, hampir 92% produksi kopi ada di tangan petani kecil atau koperasi.

 

 

 

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *